Jumat, 28 Juli 2017

JURNAL SKRIPSI FILM RUDY HABIBIE, ASEP SAEPUDIN, STKIP GARUT, 2017



 NILAI OPTIMISME DALAM FILM “RUDY HABIBIE”
KARYA HANUNG BRAMANTYO”
     (Analisis Semiotik Roland Barthes)

oleh: Asep Saepudin
NIM 13211011

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Garut.


ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Nilai Optimisme dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo (Analisis Semiotik Roland Barthes)”.

Skripsi ini dilatarbelakangi oleh senangnya budaya asal menonton masyarakat kita dan mengabaikan nilai, sehingga peneliti tertarik menganalisis film “Rudy Habibie” untuk merekomendasikan, menginspirasi serta mengungkap pesan nilai-nilai optimisme yang ditujukan bagi generasi muda agar selalu semangat menggapai cita-cita kehidupan yang lebih baik demi keluarga, bangsa dan negara. Sekaligus juga mengajak untuk mengenal lebih dekat sisi lain bapak teknologi kita lewat film “Rudy Habibie” ini.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, dengan teknik pengumpulan dokumentasi dan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes, mengambil subjek yang difokuskan kepada nilai optimisme tokoh utama Rudy pada gambar dan dialog menit serta adegan tertentu yang mengandung nilai optimisme memiliki pengharapan yang tinggi, tidak mudah putus asa, mampu memotivasi diri, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak bersikap pasrah, banyak akal dalam mencapai tujuan, dan memandang sesuatu kegagalan sebagai hal yang bisa diubah bukan menyalahkan diri menurut Synder, dengan dilihat melalui segi denotasi (signifier) menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit. Konotasi (signified) menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada nonrealitas, menghasilkan makna implisit.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa tokoh digambarkan secara wajar dengan segala bentuk penokohannya, Film “Rudy Habibie” menggunakan alur campuran, yaitu jalan cerita yang berjalan secara kronologis namun sering terdapat adegan-adegan sorot balik. Film “Rudy Habibie” terbukti mengandung 13 nilai optimisme memiliki pengharapan yang tinggi, 8 nilai tidak mudah putus asa, 2 nilai mampu memotivasi diri, 12 nilai memiliki kepercayaan diri yang tinggi, 5 nilai tidak bersikap pasrah, 9 nilai banyak akal dalam mencapai tujuan, dan 1 nilai optimisme memandang sesuatu kegagalan sebagai hal yang bisa diubah bukan dengan menyalahkan diri sendiri. Film ini sangat komplit, inspiratif, edukatif, nasionalis dan sangat direkomendasikan sekali untuk diapresiasi.

Kata Kunci : film “Rudy Habibie”, nilai optimisme, semiotika Roland Barthes.



"THE VALUE OF OPTIMISM IN THE FILM "RUDY HABIBIE"
KARYA HANUNG BRAMANTYO "
     (Semiotic Analysis of Roland Barthes)


By: Asep Saepudin
NIM 13211011


Department of Language Education and Literature Indonesia, STKIP Garut.


ABSTRACT
This thesis entitled "The Value of Optimism in Film "Rudy Habibie" The work of Hanung Bramantyo (Semiotic Analysis of Roland Barthes)".
This thesis is motivated by the happiness of the culture of origin to watch our society and ignore the value, so the researchers are interested in analyzing the film "Rudy Habibie" to recommend, inspire and reveal the message of optimism values ​​aimed at the younger generation in order to always the spirit to reach the ideals of a better life for the sake of family, nation and state. At the same time also invites to get to know more closely the other side of our technology father through the movie "Rudy Habibie" is.
This research uses descriptive-qualitative method, with the technique of collecting documentation and semiotics analysis approach Roland Barthes, taking the subject focused on the optimism value of the main character Rudy on the picture and minute dialogue and certain scenes containing optimism value has high expectations, not easy to despair, capable of self-motivation, high self-esteem, not being resigned, a lot of sense in achieving goals, and viewing a failure as a thing that can be changed instead of self-blame according to Synder, viewed in terms of denotation (signifier) ​​explain the relationship marker and marker on reality, generate explicit meaning. The connotation (signified) describes the relationship of markers and markers to nonrealities, producing implicit meaning.
The results of this study indicate that the character is depicted fairly with all forms of characterization, film "Rudy Habibie" using a mixture of flow, the storyline that runs chronologically but often there are scenes back and forth. The film "Rudy Habibie" proved to contain 13 values ​​of optimism have high expectations, 8 values ​​are not easily discouraged, 2 values ​​are able to motivate themselves, 12 values ​​have high self-confidence, 5 values ​​are not resigned, 9 values ​​a lot of sense in achieving goals, and the value of optimism sees failure as something that can be changed not by blaming yourself. This film is very complete, inspirational, educative, nationalist and highly recommended for appreciation.

Key words: film Rudy Habibie, value optimism, semiotics Roland Barthes.


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Kehidupan yang serba digital dengan gaya hidup yang menuntut serba gawai (gadget) dan daring (online), dewasa ini menandakan proses modernisasi selalu bergerak dinamis dalam menciptakan perubahan struktural sosial budaya masyarakat serta sistem yang ada di dalamnya. Hal ini mengakibatkan gencarnya arus komunikasi dan informasi. Salah satu media komunikasi itu adalah film. Film adalah sebuah karya sastra berbentuk seni kompleks dalam kemasan audio visual. Film  memiliki fungsi yang sama dengan medium yang lain seperti menyebarkan hiburan, menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan sajian teknis lainnya pada masyarakat umum. Kehadiran film sebagian merupakan respons terhadap “penemuan” waktu luang di luar jam kerja dan jawaban terhadap kebutuhan menikmati waktu senggang secara hemat dan sehat bagi seluruh anggota keluarga.

Film juga merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang menjangkau luas secara serempak. Selain bersifat menghibur film dapat menjadi sarana edukasi bagi penikmatnya, di sisi lain juga dapat menyebarluaskan nilai-nilai budaya baru. Berbicara film saat ini bukanlah hal yang baru bagi masyarakat, terlebih lagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Selain terdapat muatan hiburan yang cukup kental, di dalam sebuah film juga terkandung nilai-nilai yang bermakna pesan sosial, moral, religius dan propaganda politik. Menurut Irawanto (Sobur, 2006: 127) berpendapat, “Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksinya ke atas layar”.

Salah satu nilai yang menjadi edukasi bagi penikmatnya tersebut adalah nilai optimisme dengan berbagai cara menyampaikannya. Menurut Qodratillah (2011: 375) optimisme berarti paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Dengan demikian optimisme merupakan salah satu aspek kepribadian yang penting pada seseorang. Optimisme membuat individu mengetahui apa yang diinginkan dan cepat mengubah diri agar mudah menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.

Nilai-nilai optimisme tersebut peneliti banyak temukan dalam Film “Rudy Habibie” yang telah meraih beberapa prestasi di antaranya dalam penghargaan Festival Film Bandung seperti Film Terpuji “Rudy Habibie” (MD Pictures), pemeran utama wanita terpuji Chelsea Islan, pemeran pembantu wanita terpuji Indah Permatasari. Film ini mengungguli film lainnya di masa pemutarannya dengan penjualan tiket 230.108 lembar, dengan jumlah penonton 1.694.055 orang per 30 Juni dan akan terus bertambah. Diurutan kedua disusul “Koala Kumal” dengan jumlah tiket 281.518 lembar dengan jumlah penonton 1.472.975 orang. “ILY From 38000 Feet” dengan penjualan tiket 242.321 lembar dengan jumlah penonton 1.267.722 orang per 5 Juli. “Sabtu Bersama Bapak” dengan penjualan 72.846 lembar tiket dengan jumlah penonton 597.769 orang per 5 Juli. “Untuk Angeline” 22.445 lembar tiket per 21 juli dan film “Jilbab Traveler” dengan penjualan 15.991 lembar tiket, dengan jumlah penonton 232.175 orang per 5 Juli.

Ketertarikan peneliti dalam film “Rudy Habibie” adalah untuk melihat bagaimana pesan nilai-nilai optimisme dipresentasikan baik secara eksplisit maupun implisit. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes yang memusatkan perhatian pada tanda (sign).

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda, yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada di luar diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat (Sobur, 2006: 70).

B. Tinjauan Pustaka

Mengenai kajian semiotik pada skripsi dengan objek analisis film “Rudy Habibie” masih hangat untuk pertama kalinya, berdasarkan pada jurnal online mahasiswa yang diunggah dengan judul “JOM FISIP Vol. 4 No. 1- Februari 2017”, dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Riau, bernama Bagus Fahmi Weisarkurnai. Skripsi tersebut kurang lebih dibuat Pada akhir 2016 dan awal tahun 2017 Dengan judul “Refresentasi Pesan Moral dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo” (Kajian Semiotik). Kemudian untuk kajian nilai optimisme pada objek film juga sudah banyak dilakukan, salah satunya oleh Fita Fatimah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2014 dengan judul “Nilai Optimisme dalam Film “Cinta Suci Zahrana” (Kajian Semiotik).

Alasan peneliti memilih film “Rudy Habibie” dalam penelitian ini, karena film ini banyak menginspirasi serta mengungkap pesan nilai-nilai optimisme yang ditujukan bagi generasi muda agar selalu semangat menggapai cita-cita kehidupan yang lebih baik demi keluarga, bangsa dan negara. Sekaligus juga mengajak untuk mengenal lebih dekat sisi lain tokoh putra terbaik bangsa, karena film ini diangkat dari kisah nyata masa muda sang visioner yang dialami oleh mantan Presiden ketiga Indonesia, yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie yang mempunyai andil terhadap Indonesia.
Maka berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Nilai Optimisme dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo” (Analisis Semiotika Roland Barthes).

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas. Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut ini.
1.      Bagaimanakah deskripsi tokoh dan alur yang terdapat dalam film “Rudy Habibie”?
2.      Bagaimanakah bentuk nilai-nilai optimisme dipresentasikan dalam film Rudy Habibie?

D. Metode dan Teknik Penelitian

1. Metode Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif adalah penggambaran atau penyajian data berdasarkan kenyataan-kenyataan secara objektif sesuai data yang terdapat dalam scene-scene film yang memuat nilai-nilai optimisme. Dikatakan kualitatif karena di dalamnya tidak menggunakan prinsip-prinsip statistik, tetapi berpedoman pada teori-teori yang mendukung penelitian.

2. Teknik Penelitian

Untuk teknik penelitian, peneliti menggunakan teknik analisis, yaitu menguraikan dan menafsirkan fakta-fakta dalam film “Rudy Habibie” dengan pendekatan semiotik Roland Barthes.

E. Data dan Sumber Data

1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah film “Rudy Habibie” Karya sutradara Hanung Bramantyo yang diunduh dari youtube. Film “Rudy Habibie” diadaptasi dari novel karya Ginati S. Noer yang sekaligus penulis naskah cerita. Film ini diproduseri oleh Manoj Punjabi dan merupakan prekuel (film kedua tetapi cerita pertama mengenai sosok Habibie sebelum bertemu Ainun) yang akan bercerita tentang sosok B. J. Habibie di kala muda yang akrab disapa dengan Rudy Habibie. Film ini dirilis serentak di seluruh bioskop Indonesia pada tanggal 30 Juni 2016 dengan prestasi yang membanggakan. Tokoh Rudy Habibie diperankan apik oleh salah satu aktor terbaik Indonesia bernama Reza Rahadian.

2. Data

Data dalam penelitian ini berupa nilai-nilai optimisme yang terkandung dalam film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo.

F. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode dokumentasi, yaitu metode yang digunakan dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dokumen, notulen rapat, agenda, dan sebagainya Arikunto (Fabriar, 2009: 14). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dokumen berupa  film “Rudy Habibie” yang diunduh dari youtube untuk selanjutnya beberapa scene yang memuat nilai optimisme ditanskripsikan.

G. Teknik Analisis Data

            Analisis data merupakan langkah perlakuan selanjutnya setelah data terkumpul. Pada pelaksanaan analisis ini, secara spesifik peneliti lakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut ini.
1.      Menonton berulang-ulang film “Rudy Habibie”.
2.      Menemukan secara cermat scene-scene yang diyakini memuat nilai optimisme baik berupa gambar maupun dialog pada film dan ditranskripsi.
3.      Mengelompokkan scene-scene film yang memiliki muatan nilai-nilai optimisme sesuai kategori/ciri-ciri individu yang optimis.
4.      Menganalisis dan membahas nilai-nilai optimisme dengan teori yang relevan.
5.      Menarik simpulan.

H. Langkah-langkah Penelitian

Berikut langkah-langkah penelitian yang ditempuh peneliti di antaranya.
1. Persiapan
            Dalam penelitian ini, persiapan yang peneliti lakukan adalah:
a.       Melakukan observasi pada beberapa situs internet yang memuat film dan informasi tentang film “Rudy Habibie”.
b.      Mendokumentasikan film yang telah diunduh sebagai data.
c.       Mencari dasar-dasar teori yang relevan.
2. Kegiatan Inti
            Setelah melakukan persiapan, peneliti melanjutkan penelitian dengan kegiatan berikut ini:
a.       Mendeskripsikan tokoh dan alur yang terdapat dalam film “Rudy Habibie” terlebih dahulu.
b.      Menandai bagian-bagian scene yang mengandung muatan aspek nilai-nilai optimisme dalam film. 
c.       Menganalisis dan membahas aspek nilai-nilai optimisme pada film “Rudy Habibie” karya Hanung Bramantyo.
3. Kegiatan Akhir
            Kegiatan akhir yang peneliti lakukan adalah membuat laporan skripsi secara bertahap, di bawah arahan para pembimbing sesuai waktu terjadwal yang disepakati untuk konsultasi.

I. Contoh  Analisis dan Pembahasan
1. Memiliki Pengharapan yang Tinggi

Penghargaan adalah harapan yang ingin dicapai oleh hati. Sedangkan  harapan adalah asa atau cita-cita yang membuat seseorang dapat bertahan dalam berbagai rintangan. Harapan adalah sesuatu yang sangat penting yang membuat seseorang terus maju ketika segala sesuatu terasa sulit.

a. Scene 4 (13:19-16:38)

            Terlihat Rudy dan keluarga tiba di Gorontalo dengan menaiki delman dan disambut haru keluarga besar Papi (Ayah Rudy), karena pertemuan ini adalah pertemuan tertunda untuk waktu yang sangat panjang. Di Gorontalo Rudy dikhitan dan dibuatkan pesta.

1) Tahap Denotasi

Menit ke 16:23 (scene falshback)
(Mid shot/medium shot menampilkan gambar sebatas pinggang hingga kepala. Memberi keleluasaan subjek dalam bergerak, mengekspos reaksi dan emosi subjek. Tipe shot ini sering digunakan saat subjek berdialog).

Gambar: 4.29 Rudy Sedang Berbincang dengan Papi
(Sumber: Film “Rudy Habibie”)

            Gambar tersebut menampilkan adegan Rudy bersama Papi yang tengah berbincang hangat di sebuah kebun dekat rumah orang tua Papi di Gorontalo, sembari duduk santai pada batang pohon yang telah lama tumbang dengan konten pembicaraan  penuh harap. Tentang pentingnya sebuah keluarga dan sahabat namun jarak yang tak setiap saat bisa mempertemukan mereka, hingga harapan pun dititipkan ayahnya pada Rudy, bukan pesawat tempur yang dibenci Rudy, kelak membuat pesawat terbang komersial yang mampu mendekatkan yang jauh. Obrolan pun diakhiri senyum manis pertemuan dua tangan dan acungan jempol Papi untuk jawaban terbaik Rudy. Berikut dialog filmnya untuk gambar di atas.

Papi: “Harta yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga, dan sahabat!”.
Rudy: “Emmm Papi seneng ya di sini?”
Papi: “Ya. Aah” (sambil memperbaiki duduknya, kemudian melanjutkan pembicaraan) “di sini tempat tinggal Papi Rudy. Di sini asal Papi dan semua yang sudah lama Papi tinggalkan”.
Rudy: “Kapan ya, kita bisa ke sini lagi?”
Rudy: “Butuh tiga hari tiga malam untuk sampai di Gorontalo dari Parepare”.
Rudy: “Emmm, kalau ke Jawa?”
Papi: “Jawa lebih jauh lagi”.
Rudy: “Emmm, enak ya jadi burung bisa terbang ke mana aja?”
Papi: “Makannya kau bikin pesawat, Rudy”.
Rudy: “Rudy gak suka pesawat. Mereka jahat”.
Papi: “Jangan bikin pesawat tempur. Rudy bikin pesawat yang bisa membawa orang-orang seperti Nenek, Kakek, Papi atau Mami bisa ketemu dengan sodara-sodara”.
Rudy: “Biar akan mereka saling berdekatan ya, Pap?”
Papi: “Ya”. (menutup obrolan dengan tos tangan).

2). Tahap Konotasi
            Berdasarkan pada gambar dan dialog di atas, terlihat ada sebuah harapan besar dari sosok Papi kepada Rudy. Harapan yang disampaikan dengan tidak terkesan memaksa, menekan dan tidak menggurui. Harapan yang disampaikan dengan santai, penuh kehangatan, lewat bahasa anak yang ringan, mudah dicerna namun sarat akan pesan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga anak bisa menerimanya dengan baik. Sikap Papi sangat perlu kita teladani, anak perlu diberikan pilihan, diarahkan pada bakat dan potensi terbaik yang dimilikinya, namun tidak untuk memaksakan kehendak orang tua apalagi jika si anak tidak menyukai dan tidak mampu melakukannya, orang tua jangan sekali-kali memaksa. Tugas orang tua adalah memberikan pemahaman dan  memberi tahu kemungkinan-kemungkinan, selebihnya biarkan anak sendiri yang memilih keinginannya. Sebagaimana puisi Kahlil Gibran berjudul “Anakmu Bukan Milikmu” yang intinya mengatakan bahwa orang tua bagi Gibran, hanyalah sebuah busur. Dan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa (dan baru memiliki makna) jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya. Tuhan, menurut Gibran, mencintai anak panah (anak-anak) yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan juga mencintai busur (orang tua) yang selalu mendukung setiap kegiatan positif anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya itu. Puisi ini sangat dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di telinga orang tua. Kebanyakan orang tua selalu ingin menguasai anak-anaknya sebagai miliknya, yang bisa mereka atur semaunya.

J. Simpulan

            Berdasarkan pengkajian untuk menjawab apa itu tokoh/penokohan, alur dan nilai optimisme seperti yang dirumuskan dalam rumusan masalah pada bab 1 menggunakan teori di bab 2, yang terdapat dalam film “Rudy Habibie” karya Hanung Bramatyo dengan analisis semiotik Roland Barthes, berikut peneliti simpulkan hasil kajiannya di bawah ini.

1. Tokoh dan Alur

a. Tokoh

            Penokohan dalam film “Rudy Habibie” terlihat sangat wajar. Berdasarkan perbedaan tokohnya, tokoh utamanya adalah Bacharuddin Jusuf Habibie. Untuk tokoh tambahan di antaranya ada tokoh Ilona, Liem Keng Kie, Ayu, Peter Manumasa dan Poltak Hasibuan.

            Berdasarkan peranannya, untuk tokoh protagonis terdiri dari tokoh Rudy Habibie, Ilona, Ayu, Keng Kie, Peter, Poltak, Sugeng, Sofia, Mami, Papi, Fanny, Romo Mangunwijaya, Pastor Gilbert, Erbakan dan lainnya. Sementara tokoh antagonis diperankan oleh tokoh Panca, Agus, Mario, Irul dan lainnya.

Berdasarkan perwatakannya, untuk tokoh sederhana diperankan oleh Sugeng, Sofia, Romo Mangunwijaya, Pastor Gilbert. Untuk tokoh kompleks, yaitu tokoh utama Rudy Habibie. Untuk tokoh tipikal, yaitu tokoh sekilas Bung Karno, tokoh Pak Dubes Indonesia untuk Jerman. Tokoh Irul, dan lainnya. Sementara untuk tokoh netral, adalah tokoh mahasiswa senior Bung Peter Manumasa.

Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya, untuk tokoh statis yaitu tokoh Sugeng, Sofia, Keng Kie, Peter dan Mami. Sementara untuk tokoh berkembang adalah tokoh utama Rudy Habibie, Ilona, Ayu dan Panca.

            Untuk teknik pelukisan tokoh. Di film “Rudy Habibie” teknik pelukisan tokohnya menggunakan teknik dramatik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik reaksi tokoh dan teknik reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, dan teknik pelukisan fisik.

b. Alur

Untuk deskripsi alur. Film “Rudy Habibie” ini menggunakan jenis alur campuran, yaitu gabungan alur maju dengan alur mundur. Hal ini dibuktikan berdasarkan pengertian secara teori dengan fakta di dalam film yang diteliti. Alur campuran, yaitu jalan cerita yang berjalan secara kronologis namun sering terdapat adegan-adegan sorot balik (flashback). Alur maju terdapat pada keseluruhan cerita yang hanya disisipi beberapa alur sorot balik, yaitu alur maju diawali ketika Rudy muda tiba di Aachen untuk menuntut ilmu di kampus RWTH Jerman dengan segala dinamika hidup yang ditemui dan dialaminya. Selanjutnya alur sorot balik (flashback) terlihat pada adegan Rudy yang baru mendapat tempat menginap di Jerman, ketika di kamar membuka koper, Rudy melihat Alquran yang usang waktu mengaji dulu dan membawa kembali Rudy pada masa-masa bersama keluarganya di Parepare, Gorontalo dan ketika di Makassar. begitu pun adegan mengenang kembali terjadi ditelepon untuk menguatkan Rudy, Mami mengajak Rudy untuk mengingat ketika dengan berani Rudy menggantikan posisi Papinya menjadi imam, saat Papinya meninggal di sujud terakhir salat berjamaah. Alur sorot balik juga terlihat ketika Rudy menerima surat dari Mami dan mengingat kenangan pernah mengejek Ainun ketika bersekolah, atau ketika Rudy mengingat kembali pesan ayahnya untuk menjadi “mata air” kala sedang gelisah dalam salatnya maupun ketika sedang  berbaring tidak berdaya di rumah sakit.

2. Nilai Optimisme

            Bentuk nilai-nilai optimisme dipresentasikan dalam adegan-adegan pada gambar menit-menit tertentu. Kemudian untuk mewakili keutuhan satu scene yang ada, peneliti menyertakan transkripsi dialognya, yang sebagian juga nilai optimisme dianalisis berdasarkan kalimat-kalimat dialog/monolog/tindakan transkripsinya untuk melengkapi gambar yang dianalisis.

            Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, menyimpulkan bahwa terdapat 13 nilai optimisme memiliki pengharapan yang tinggi yang dipresentasikan pada gambar menit-menit adegan ke 4, 5, 9, 14, 25, 30, 31, 34, 35, 36, 50, dan 56. Terdapat 8 nilai optimisme tidak mudah putus asa pada gambar menit-menit adegan ke 5, 16, 40, 41, 52, dan adegan ke 53. Terdapat 2 nilai optimisme mampu memotivasi diri pada menit-menit adegan ke 2 dan 9. Terdapat 12 nilai optimisme memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang dipresentasikan pada gambar menit-menit adegan ke 2, 12, 13, 22, 23, 24, 26, 35, 38, 39, dan adegan ke 40. Terdapat 5 nilai optimisme tidak bersikap pasrah yang dipresentasikan pada gambar menit-menit adegan ke 2, 10, 42, 48, dan 55. Terdapat 9 nilai optimisme banyak akal dalam mencapai tujuan yang dipresentasikan pada gambar menit-menit adegan ke 5, 6, 11, 12, 14, 17, 27, dan adegan ke 31. Terakhir terdapat 1 nilai optimisme memandang sesuatu kegagalan sebagai hal yang bisa diubah bukan dengan menyalahkan diri sendiri pada gambar menit adegan ke 42.

            Berdasarkan jumlah masing-masing nilai optimisme di atas, berikut peneliti simpulkan. Jika mengacu pada urutan terbanyak masing-masing jumlah nilai optimisme, maka memiliki pengharapan yang tinggi menempati urutan pertama dengan jumlah sebanyak 13 nilai, hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi orang yang sukses poin pertama yang dibutuhkan adalah harus memiliki pengharapan/keinginan yang besar, terutama harapan kepada Allah SWT dengan segala prasangka baiknya kita. Setelah itu sebuah harapan harus didukung oleh kepercayaan diri yang tinggi untuk mewujudkannya. Selanjutnya, percaya diri saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan akal yang cerdas untuk melewati rintangan yang ada, dan ketika rintangan hadir kita tidak boleh mudah putus asa untuk menaklukannya, apalagi hanya bersikap pasrah tanpa melakukan sesuatu, yang ada sebaliknya kita harus pandai memotivasi diri, karena bagaimana pun kitalah motivator terbaik bagi diri kita sendiri, untuk mengubah kegagalan yang ada menjadi manusia hebat yang jauh lebih baik.

K. Daftar Pustaka
Aminuddin. (2009). Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Ardianto, E. dkk. (2014). Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Bolay. (2015). Jenis-jenis Genre Film. [online]. Tersedia: http://bolaynet.blogspot.com/2015/05/penjelasan-dan-arti-dari-berbagai-genre.html diakses tanggal 26 Maret 2017.

Fabriar, S. R. (2009). Pesan Dakwah dalam Film Perempuan Berkalung Sorban (Analisis Pesan Tentang Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam). E-Skripsi Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

Fatimah, F. (2014). Nilai Optimisme dalam Film Cinta Suci Zahrana. E-Jurnal: mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Fitria, R. (2012). Nilai-nilai Optimisme dalam Film Si Anak Kampoeng Karya Damien Dematra. E-Jurnal Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ilaihi, W. (2010). Komunikasi Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Nurgiyantoro, B. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Phonna, J. (2015). Aceh Documentary 14 Tipe Shot Dalam Pengambilan Gambar Film. [online]. Tersedia: http://acehdocumentary.com/berita/14-tipe-shot-dalam-pengambilan-gambar-film/ (diakses tanggal 25 Maret 2017).

Qarni, A. A. (2008). Berbahagialah (Buku Motivasi Terjemahan). Jakarta: Al- Qalam Gema Insani 

Qodratillah, M. T. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Qodratillah, M. T. (2011). Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Rakhmat, J. (2003). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Sobur, A. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Suseno, B. (2010). Filmisasi Karya Sastra Indonesia. [online]. Tersedia: https://bensuseno.wordpress.com/2010/02/22/filmisasi-karya-sastra-indonesia-kajian-ekranisasi-pada-cerpen-dan-film-%E2%80%9Ctentang-dia%E2%80%9D/ diakses tanggal 03 Maret 2017

Tagar. (2016). Informasi tentang film Rudy Habibie. [online]. Tersedia: (Http://beritagar.id/artikel/seni/-hiburan/koala-kumal-menggeser-rudy-shabibie-sebagai-film-terlaris (Diakses pada tanggal 24 Maret 2017).

Uno, H. B. (2010). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Utomo, Y. P. (2014). Nilai-nilai Kejujuran dan Optimisme dalam Buku Habibie dan Ainun serta Relevansinya Terhadap Guru PAI. E-Jurnal Jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Weisarkurnia, B. G. (2016). Refresentasi Pesan Moral dalam Film Rudy Habibie Karya Hanung Bramantyo (JOM FISIP Vol. 4 No. 1-Februari 2017). E-Jurnal: mahasiswa FISIP Universitas Riau.

Zaimar, O. K. S. (2014). Semiotika dalam Analisis Karya Sastra. Depok: PT Komodo Books.

L. Riwayat Hidup
Peneliti memiliki nama lengkap Asep Saepudin, lahir di Garut, 23 Oktober 1992. Tepatnya di Kp. Dungus Maung, RT 04/ RW 04, Ds. Sirnagalih, Kec. Cisurupan, Kab. Garut, Jawa Barat. Peneliti merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara dari pasangan Bpk. Oman dan Ibu Rukmini. Riwayat pendidikan peneliti tidak semulus yang lainnya, karena satu dan lain hal peneliti harus berhenti beberapa tahun untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Untuk sebagian orang peneliti telat dalam menempuh pendidikan, tapi untuk peneliti sendiri ini adalah  waktu terbaik menurut Allah dengan segala kesiapan peneliti menjalaninya. Peneliti bersekolah di SDN Sirnagalih 01, Dungus Maung, Cisurupan lulus 2004. MTs Darul Huda, Pakuwon, Simpangsari, Cisurupan lulus 2007. Setelah lulus peneliti berhenti selama 1 tahun kemudian melanjutkan ke SMKN 9 Garut, Nangoh, Bayongbong dan lulus 2011. Setelah lulus SMK peneliti berhenti selama 2 tahun untuk mencari pengalaman, setelah itu peneliti melanjutkan ke perguruan tinggi di STKIP Garut, mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Peneliti merupakan penderita gagap sejak kecil dan itu sangat membuat peneliti putus asa, lucu untuk orang lain tapi menyakitkan bagi penderitanya, setiap kali berbicara dengan orang yang tidak dikenal atau berbicara di depan umum pasti “keistimewaan” itu muncul, seiring berjalannya waktu dengan terus mengasah kemampuan berbicara dan terus berpikir positif dengan tidak henti memotivasi diri, akhirnya atas izin Allah swt peneliti mampu mengatasi sedikit demi sedikit “keistimewaan” itu dengan terus berlatih melalui metode presentasi yang diterapkan di prodi PBSI, sering diminta kultum sebelum perkuliahan dimulai, beberapa mata kuliah juga mendukung potensi peneliti lebih terampil lagi dalam berbicara, di antaranya mata kuliah Berbicara dan Menulis Bahasa Inggris, Berbicara, Retorika, pementasan drama, Simulasi Mengajar, kegiatan KKN, praktikan PPL dan lainnya, jadi mohon maaf jika para dosen mata kuliah melihat peneliti agak terbata-bata dalam menyampaikan gagasan, sekaligus rasa terima kasih yang teramat sangat untuk prodi PBSI yang telah menjadi jalan mengasah kemampuan berbicara peneliti, semoga semakin lebih baik lagi dan sembuh total, aamiin. Karena “keistimewaan” tersebut modal peneliti untuk melanjutkan kuliah saat itu hanya keyakinan, bahwa Allah tidak mungkin menuntun peneliti sampai ke STKIP, kalau tidak ada maksud tertentu di dalamnya. Pasti baik, pikir peneliti yakin. Hingga tidak terasa air mata menetes, mengingat semua perjuangan orang tua dan peneliti masih banyak merepotkan belum mampu membahagiakan.

Terbukti, akhirnya keyakinan peneliti berbuah manis. Begitu banyak kebahagiaan yang peneliti dapatkan dalam perjalanan di tiap semesternya. Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk meraihnya, ada harga yang harus dibayarkan. Malu, takut, pandangan tidak bersahabat, keringat, air mata dan mulut yang tidak henti berdoa. Untuk pertama kalinya dalam hidup peneliti, laksana mimpi memegang piala sebagai juara ketiga pada ujian retorika. Sukses mementaskan drama, kembali memegang piala sebagai kelompok terbaik kedua, pada ujian apresiasi drama bersama sahabat-sahabat terbaik peneliti. Memiliki banyak teman, keluarga baru, pengalaman dan momen-momen termahal ketika KKN maupun PPL, yang bahkan jepretan kamera pun tidak sanggup mendeskripsikannya secara sempurna. Rezeki yang tidak disangka-sangka lainnya, adalah ketika mendapatkan beasiswa PPA dari nilai IPK. Terima kasih Ya Allah, (terharu).

Tanpa bermaksud sombong. Bagi peneliti itu semua adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt. Ketika kita yakin, istiqomah menjalaninya, dan menikmati prosesnya dengan sabar. Percaya, pasti terjadi. Bahkan diluar dugaan.

Sekali lagi, terima kasih Ya Allah, lewat STKIP Kau telah memberi jalan dan menunjukkannya bahwa kebahagiaan itu ada, sederhana, bahkan banyak terutama bagi mereka yang mau memulai untuk mewujudkannya. Ingat, kejutan itu banyak dirasakan, oleh mereka yang berani mencoba. Jadi, mencobalah!.
                Peneliti memiliki minat terbesar untuk menjadi seorang presenter/pembaca berita yang meski bagai memeluk bulan, tapi profesi itu masih tersimpan spesial di hati ini. Saat ini peneliti tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Diakhir studi peneliti menyusun skripsi dengan judul “Nilai Optimisme dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo” (Analisis Semiotik Roland Barthes).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar