“NILAI
OPTIMISME DALAM FILM “RUDY HABIBIE”
KARYA HANUNG BRAMANTYO”
(Analisis Semiotik Roland Barthes)
oleh: Asep
Saepudin
NIM 13211011
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
STKIP Garut.
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Nilai
Optimisme dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo (Analisis Semiotik
Roland Barthes)”.
Skripsi ini dilatarbelakangi oleh senangnya budaya asal menonton
masyarakat kita dan mengabaikan nilai, sehingga peneliti tertarik menganalisis
film “Rudy Habibie” untuk merekomendasikan, menginspirasi
serta mengungkap pesan nilai-nilai optimisme yang ditujukan bagi generasi muda
agar selalu semangat menggapai cita-cita kehidupan yang lebih baik demi
keluarga, bangsa dan negara. Sekaligus juga mengajak untuk mengenal lebih dekat
sisi lain bapak teknologi kita lewat film “Rudy Habibie” ini.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, dengan
teknik pengumpulan dokumentasi dan pendekatan analisis semiotika Roland
Barthes, mengambil subjek yang difokuskan kepada nilai optimisme tokoh utama Rudy
pada gambar dan dialog menit serta adegan tertentu yang mengandung nilai
optimisme memiliki pengharapan yang tinggi, tidak mudah putus asa, mampu
memotivasi diri, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak bersikap pasrah,
banyak akal dalam mencapai tujuan, dan memandang sesuatu kegagalan sebagai hal
yang bisa diubah bukan menyalahkan diri menurut Synder, dengan dilihat melalui
segi denotasi (signifier) menjelaskan
hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit.
Konotasi (signified) menjelaskan
hubungan penanda dan petanda pada nonrealitas, menghasilkan makna implisit.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa tokoh digambarkan
secara wajar dengan segala bentuk penokohannya, Film “Rudy Habibie” menggunakan
alur campuran, yaitu jalan cerita yang berjalan secara kronologis namun sering
terdapat adegan-adegan sorot balik. Film “Rudy Habibie” terbukti mengandung 13
nilai optimisme memiliki pengharapan yang tinggi, 8 nilai tidak mudah putus
asa, 2 nilai mampu memotivasi diri, 12 nilai memiliki kepercayaan diri yang
tinggi, 5 nilai tidak bersikap pasrah, 9 nilai banyak akal dalam mencapai
tujuan, dan 1 nilai optimisme memandang sesuatu kegagalan sebagai hal yang bisa
diubah bukan dengan menyalahkan diri sendiri. Film ini sangat komplit,
inspiratif, edukatif, nasionalis dan sangat direkomendasikan sekali untuk
diapresiasi.
Kata Kunci : film “Rudy Habibie”, nilai optimisme, semiotika
Roland Barthes.
"THE VALUE OF OPTIMISM IN
THE FILM "RUDY HABIBIE"
KARYA HANUNG BRAMANTYO "
(Semiotic Analysis of Roland Barthes)
By: Asep Saepudin
NIM 13211011
Department of Language Education and Literature Indonesia, STKIP Garut.
ABSTRACT
KARYA HANUNG BRAMANTYO "
(Semiotic Analysis of Roland Barthes)
By: Asep Saepudin
NIM 13211011
Department of Language Education and Literature Indonesia, STKIP Garut.
ABSTRACT
This thesis entitled "The Value of Optimism in Film
"Rudy Habibie"
The work of Hanung Bramantyo (Semiotic Analysis of Roland
Barthes)".
This thesis is motivated by the happiness of the culture
of origin to watch our society and ignore the value, so the researchers are
interested in analyzing the film "Rudy Habibie" to recommend, inspire
and reveal the message of optimism values aimed at the younger generation in
order to always the spirit to reach the ideals of a better life for the sake of family, nation and state. At the same time
also invites to get to know more closely the other side of our technology
father through the movie "Rudy Habibie" is.
This research uses descriptive-qualitative method, with
the technique of collecting documentation and semiotics analysis approach
Roland Barthes, taking the subject focused on the optimism value of the main
character Rudy on the picture and minute dialogue and certain scenes containing
optimism value has high expectations, not easy to despair, capable of self-motivation, high self-esteem, not being
resigned, a lot of sense in achieving goals, and viewing a failure as a thing
that can be changed instead of self-blame according to Synder, viewed in terms
of denotation (signifier) explain the relationship marker and marker on reality, generate explicit meaning. The connotation
(signified) describes the relationship of markers and markers to nonrealities,
producing implicit meaning.
The results of this study indicate that the character is
depicted fairly with all forms of characterization, film "Rudy Habibie" using a mixture of flow, the
storyline that runs chronologically but often there are scenes back and forth.
The film "Rudy Habibie" proved to contain 13 values of optimism
have high expectations, 8 values are not easily discouraged, 2 values are
able to motivate themselves, 12 values have high self-confidence, 5 values
are not resigned, 9 values a lot of sense in achieving goals, and the value of optimism sees failure as something that
can be changed not by blaming yourself. This film is very complete,
inspirational, educative, nationalist and highly recommended for appreciation.
Key words: film “Rudy Habibie”, value optimism,
semiotics Roland Barthes.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Kehidupan yang serba digital dengan gaya hidup yang menuntut
serba gawai (gadget) dan daring (online), dewasa ini menandakan proses
modernisasi selalu bergerak dinamis dalam menciptakan perubahan struktural
sosial budaya masyarakat serta sistem yang ada di dalamnya. Hal ini
mengakibatkan gencarnya arus komunikasi dan informasi. Salah satu media
komunikasi itu adalah film. Film adalah sebuah karya sastra berbentuk seni
kompleks dalam kemasan audio visual. Film
memiliki fungsi yang sama dengan medium yang lain seperti menyebarkan
hiburan, menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan sajian teknis lainnya
pada masyarakat umum. Kehadiran film sebagian merupakan respons terhadap
“penemuan” waktu luang di luar jam kerja dan jawaban terhadap kebutuhan
menikmati waktu senggang secara hemat dan sehat bagi seluruh anggota keluarga.
Film juga merupakan salah satu bentuk
komunikasi massa yang menjangkau luas secara serempak. Selain bersifat
menghibur film dapat menjadi sarana edukasi bagi penikmatnya, di sisi lain juga
dapat menyebarluaskan nilai-nilai budaya baru. Berbicara film saat ini bukanlah
hal yang baru bagi masyarakat, terlebih lagi masyarakat yang tinggal di
perkotaan. Selain terdapat muatan hiburan yang cukup kental, di dalam sebuah
film juga terkandung nilai-nilai yang bermakna pesan sosial, moral, religius
dan propaganda politik. Menurut Irawanto (Sobur, 2006: 127) berpendapat, “Film
selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan
kemudian memproyeksinya ke atas layar”.
Salah
satu nilai yang menjadi edukasi bagi penikmatnya tersebut adalah nilai
optimisme dengan berbagai cara menyampaikannya. Menurut Qodratillah (2011: 375)
optimisme berarti paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan
menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Dengan
demikian optimisme merupakan salah satu aspek kepribadian yang penting pada
seseorang. Optimisme membuat individu mengetahui apa yang diinginkan dan cepat
mengubah diri agar mudah menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.
Nilai-nilai optimisme tersebut
peneliti banyak temukan dalam Film “Rudy Habibie” yang telah meraih beberapa
prestasi di antaranya dalam penghargaan Festival Film Bandung seperti Film
Terpuji “Rudy Habibie” (MD
Pictures), pemeran utama wanita
terpuji Chelsea Islan, pemeran pembantu wanita terpuji Indah Permatasari. Film
ini mengungguli film lainnya di masa pemutarannya dengan penjualan tiket
230.108 lembar, dengan jumlah penonton 1.694.055 orang per 30 Juni dan akan
terus bertambah. Diurutan kedua disusul “Koala Kumal” dengan jumlah tiket
281.518 lembar dengan jumlah penonton 1.472.975 orang. “ILY From 38000 Feet”
dengan penjualan tiket 242.321 lembar dengan jumlah penonton 1.267.722 orang
per 5 Juli. “Sabtu Bersama Bapak” dengan penjualan 72.846 lembar tiket dengan
jumlah penonton 597.769 orang per 5 Juli. “Untuk Angeline” 22.445 lembar tiket
per 21 juli dan film “Jilbab Traveler” dengan penjualan 15.991 lembar tiket,
dengan jumlah penonton 232.175 orang per 5 Juli.
Ketertarikan
peneliti dalam film “Rudy Habibie” adalah untuk melihat bagaimana pesan
nilai-nilai optimisme dipresentasikan baik secara eksplisit maupun implisit.
Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes yang memusatkan perhatian
pada tanda (sign).
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari
tentang tanda (sign), berfungsinya
tanda, dan produksi makna. Semiotika memandang komunikasi sebagai proses
pemberian makna melalui tanda, yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide,
situasi, dan sebagainya yang berada di luar diri individu. Semiotika digunakan
dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat (Sobur, 2006:
70).
B. Tinjauan Pustaka
Mengenai
kajian semiotik pada
skripsi dengan objek analisis film “Rudy Habibie” masih hangat untuk pertama
kalinya, berdasarkan pada jurnal online
mahasiswa yang diunggah dengan judul “JOM FISIP Vol. 4 No. 1- Februari 2017”,
dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu
Politik Universitas Riau, bernama Bagus
Fahmi Weisarkurnai. Skripsi tersebut kurang lebih dibuat Pada akhir 2016 dan
awal tahun 2017 Dengan judul “Refresentasi
Pesan Moral dalam Film “Rudy Habibie” Karya Hanung Bramantyo” (Kajian
Semiotik). Kemudian untuk kajian nilai optimisme pada objek film juga sudah
banyak dilakukan, salah satunya oleh Fita Fatimah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta tahun 2014 dengan judul “Nilai Optimisme dalam Film “Cinta Suci
Zahrana” (Kajian Semiotik).
Alasan peneliti memilih film “Rudy
Habibie” dalam penelitian ini, karena film ini banyak menginspirasi serta
mengungkap pesan nilai-nilai optimisme yang ditujukan bagi generasi muda agar
selalu semangat menggapai cita-cita kehidupan yang lebih baik demi keluarga,
bangsa dan negara. Sekaligus juga mengajak untuk mengenal lebih dekat sisi lain
tokoh putra terbaik bangsa, karena film ini diangkat dari kisah nyata masa muda
sang visioner yang dialami oleh mantan Presiden ketiga Indonesia, yaitu
Bacharuddin Jusuf Habibie yang mempunyai andil terhadap Indonesia.
Maka berdasarkan uraian latar belakang
di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Nilai Optimisme dalam Film “Rudy Habibie”
Karya Hanung Bramantyo” (Analisis Semiotika Roland Barthes).
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dipaparkan di atas. Peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut ini.
1. Bagaimanakah deskripsi tokoh dan
alur yang terdapat dalam film “Rudy Habibie”?
2. Bagaimanakah bentuk nilai-nilai optimisme dipresentasikan
dalam film “Rudy Habibie”?
D. Metode dan Teknik
Penelitian
1. Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian
ini maka metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian
deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif adalah penggambaran atau penyajian
data berdasarkan kenyataan-kenyataan secara objektif sesuai data yang terdapat
dalam scene-scene film yang memuat nilai-nilai
optimisme. Dikatakan kualitatif karena di dalamnya tidak
menggunakan prinsip-prinsip statistik, tetapi berpedoman pada teori-teori yang
mendukung penelitian.
2. Teknik Penelitian
Untuk teknik penelitian, peneliti menggunakan teknik analisis, yaitu
menguraikan dan
menafsirkan fakta-fakta dalam film “Rudy Habibie”
dengan pendekatan semiotik Roland Barthes.
E. Data dan Sumber
Data
1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini
adalah film “Rudy Habibie” Karya sutradara Hanung
Bramantyo yang diunduh dari youtube. Film
“Rudy Habibie” diadaptasi dari novel karya Ginati S. Noer yang sekaligus
penulis naskah cerita. Film ini diproduseri oleh Manoj Punjabi dan merupakan
prekuel (film kedua tetapi cerita pertama mengenai sosok Habibie sebelum
bertemu Ainun) yang akan bercerita tentang sosok B. J. Habibie di kala muda
yang akrab disapa dengan Rudy Habibie. Film ini dirilis serentak di seluruh
bioskop Indonesia pada tanggal 30 Juni 2016 dengan prestasi yang membanggakan.
Tokoh Rudy Habibie diperankan apik oleh salah satu aktor terbaik Indonesia
bernama Reza Rahadian.
2. Data
Data dalam penelitian ini berupa
nilai-nilai optimisme yang terkandung dalam film “Rudy Habibie” Karya Hanung
Bramantyo.
F. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data
yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode dokumentasi,
yaitu metode yang digunakan dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau
variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dokumen,
notulen rapat, agenda, dan sebagainya Arikunto (Fabriar, 2009: 14). Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan dokumen berupa film “Rudy Habibie” yang diunduh dari youtube untuk selanjutnya beberapa scene yang memuat nilai optimisme
ditanskripsikan.
G. Teknik Analisis Data
Analisis
data merupakan langkah perlakuan selanjutnya setelah data terkumpul. Pada
pelaksanaan analisis ini, secara spesifik peneliti lakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut ini.
1. Menonton berulang-ulang film
“Rudy Habibie”.
2. Menemukan secara cermat scene-scene yang diyakini memuat nilai optimisme
baik berupa gambar maupun dialog pada film dan ditranskripsi.
3. Mengelompokkan scene-scene film yang
memiliki muatan nilai-nilai optimisme
sesuai kategori/ciri-ciri individu yang optimis.
4. Menganalisis dan membahas nilai-nilai optimisme dengan teori yang relevan.
5. Menarik simpulan.
H. Langkah-langkah
Penelitian
Berikut langkah-langkah
penelitian yang ditempuh peneliti di antaranya.
1. Persiapan
Dalam
penelitian ini, persiapan yang peneliti lakukan adalah:
a.
Melakukan
observasi pada beberapa situs internet yang memuat film dan informasi tentang film
“Rudy Habibie”.
b.
Mendokumentasikan
film yang telah diunduh
sebagai data.
c.
Mencari
dasar-dasar teori yang relevan.
2. Kegiatan Inti
Setelah
melakukan persiapan, peneliti melanjutkan penelitian dengan kegiatan berikut
ini:
a.
Mendeskripsikan tokoh
dan alur yang terdapat dalam film “Rudy Habibie” terlebih dahulu.
b.
Menandai
bagian-bagian scene yang mengandung
muatan aspek nilai-nilai optimisme dalam film.
c.
Menganalisis
dan membahas aspek nilai-nilai optimisme pada film “Rudy Habibie” karya
Hanung Bramantyo.
3. Kegiatan Akhir
Kegiatan
akhir yang peneliti lakukan adalah membuat laporan skripsi secara bertahap, di bawah arahan para pembimbing sesuai waktu
terjadwal yang disepakati untuk konsultasi.
I.
Contoh Analisis dan Pembahasan
1. Memiliki Pengharapan yang Tinggi
Penghargaan adalah
harapan yang ingin dicapai oleh hati. Sedangkan
harapan adalah asa atau cita-cita yang membuat seseorang dapat bertahan
dalam berbagai rintangan. Harapan adalah sesuatu yang sangat penting yang
membuat seseorang terus maju ketika segala sesuatu terasa sulit.
a. Scene 4
(13:19-16:38)
Terlihat
Rudy dan keluarga tiba di Gorontalo dengan menaiki delman dan disambut haru
keluarga besar Papi (Ayah Rudy), karena pertemuan ini adalah pertemuan tertunda
untuk waktu yang sangat panjang. Di Gorontalo Rudy dikhitan dan dibuatkan
pesta.
1)
Tahap Denotasi
Menit ke 16:23 (scene falshback)
(Mid shot/medium shot menampilkan
gambar sebatas pinggang hingga kepala. Memberi keleluasaan subjek
dalam bergerak, mengekspos reaksi dan emosi subjek. Tipe shot ini sering digunakan saat subjek
berdialog).
Gambar: 4.29 Rudy Sedang Berbincang dengan Papi
(Sumber: Film “Rudy Habibie”)
Gambar
tersebut menampilkan adegan Rudy bersama Papi yang tengah berbincang hangat di
sebuah kebun dekat rumah orang tua Papi di Gorontalo, sembari duduk santai pada
batang pohon yang telah lama tumbang dengan konten pembicaraan penuh harap. Tentang pentingnya sebuah
keluarga dan sahabat namun jarak yang tak setiap saat bisa mempertemukan
mereka, hingga harapan pun dititipkan ayahnya pada Rudy, bukan pesawat tempur
yang dibenci Rudy, kelak membuat pesawat terbang komersial yang mampu
mendekatkan yang jauh. Obrolan pun diakhiri senyum manis pertemuan dua tangan
dan acungan jempol Papi untuk jawaban terbaik Rudy. Berikut dialog filmnya
untuk gambar di atas.
Papi: “Harta yang paling berharga di dunia
ini adalah keluarga, dan sahabat!”.
Rudy: “Emmm Papi seneng ya di sini?”
Papi: “Ya. Aah” (sambil memperbaiki duduknya,
kemudian melanjutkan pembicaraan) “di sini tempat tinggal Papi Rudy. Di sini
asal Papi dan semua yang sudah lama Papi tinggalkan”.
Rudy: “Kapan ya, kita bisa ke sini lagi?”
Rudy: “Butuh tiga hari tiga malam untuk
sampai di Gorontalo dari Parepare”.
Rudy: “Emmm, kalau ke Jawa?”
Papi: “Jawa lebih jauh lagi”.
Rudy: “Emmm, enak ya jadi burung bisa terbang
ke mana aja?”
Papi: “Makannya kau bikin pesawat, Rudy”.
Rudy: “Rudy gak suka pesawat. Mereka jahat”.
Papi: “Jangan bikin pesawat tempur. Rudy
bikin pesawat yang bisa membawa orang-orang seperti Nenek, Kakek, Papi atau
Mami bisa ketemu dengan sodara-sodara”.
Rudy: “Biar akan mereka saling berdekatan ya,
Pap?”
Papi: “Ya”. (menutup obrolan dengan tos
tangan).
2). Tahap Konotasi
Berdasarkan
pada gambar dan dialog di atas, terlihat ada sebuah harapan besar dari sosok
Papi kepada Rudy. Harapan yang disampaikan dengan tidak terkesan memaksa,
menekan dan tidak menggurui. Harapan yang disampaikan dengan santai, penuh
kehangatan, lewat bahasa anak yang ringan, mudah dicerna namun sarat akan pesan
dan nilai-nilai kehidupan, sehingga anak bisa menerimanya dengan baik. Sikap
Papi sangat perlu kita teladani, anak perlu diberikan pilihan, diarahkan pada
bakat dan potensi terbaik yang dimilikinya, namun tidak untuk memaksakan
kehendak orang tua apalagi jika si anak tidak menyukai dan tidak mampu
melakukannya, orang tua jangan sekali-kali memaksa. Tugas orang tua adalah
memberikan pemahaman dan memberi tahu
kemungkinan-kemungkinan, selebihnya biarkan anak sendiri yang memilih
keinginannya. Sebagaimana puisi Kahlil Gibran berjudul “Anakmu Bukan Milikmu”
yang intinya mengatakan bahwa orang tua bagi Gibran, hanyalah
sebuah busur. Dan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa (dan baru
memiliki makna) jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat
mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya. Tuhan, menurut Gibran, mencintai
anak panah (anak-anak) yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan
juga mencintai busur (orang tua) yang selalu mendukung setiap kegiatan positif
anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya itu. Puisi ini sangat
dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di
telinga orang tua. Kebanyakan orang tua selalu ingin menguasai anak-anaknya
sebagai miliknya, yang bisa mereka atur semaunya.
J.
Simpulan
Berdasarkan pengkajian untuk menjawab apa itu
tokoh/penokohan, alur dan nilai optimisme seperti yang dirumuskan dalam rumusan
masalah pada bab 1 menggunakan teori di bab 2, yang terdapat dalam film “Rudy
Habibie” karya Hanung Bramatyo dengan analisis semiotik Roland Barthes, berikut
peneliti simpulkan hasil kajiannya di bawah ini.
1. Tokoh
dan Alur
a.
Tokoh
Penokohan dalam film “Rudy Habibie” terlihat sangat
wajar. Berdasarkan perbedaan tokohnya, tokoh utamanya adalah Bacharuddin Jusuf
Habibie. Untuk tokoh tambahan di antaranya ada tokoh Ilona, Liem Keng Kie, Ayu,
Peter Manumasa dan Poltak Hasibuan.
Berdasarkan peranannya, untuk tokoh protagonis terdiri
dari tokoh Rudy Habibie, Ilona, Ayu, Keng Kie, Peter, Poltak, Sugeng, Sofia,
Mami, Papi, Fanny, Romo Mangunwijaya, Pastor Gilbert, Erbakan dan lainnya.
Sementara tokoh antagonis diperankan oleh tokoh Panca, Agus, Mario, Irul dan
lainnya.
Berdasarkan
perwatakannya, untuk tokoh sederhana diperankan oleh Sugeng, Sofia, Romo
Mangunwijaya, Pastor Gilbert. Untuk tokoh kompleks, yaitu tokoh utama Rudy
Habibie. Untuk tokoh tipikal, yaitu tokoh sekilas Bung Karno, tokoh Pak Dubes
Indonesia untuk Jerman. Tokoh Irul, dan lainnya. Sementara untuk tokoh netral,
adalah tokoh mahasiswa senior Bung Peter Manumasa.
Berdasarkan
kriteria berkembang atau tidaknya, untuk tokoh statis yaitu tokoh Sugeng,
Sofia, Keng Kie, Peter dan Mami. Sementara untuk tokoh berkembang adalah tokoh
utama Rudy Habibie, Ilona, Ayu dan Panca.
Untuk teknik pelukisan tokoh. Di film “Rudy Habibie”
teknik pelukisan tokohnya menggunakan teknik dramatik cakapan, teknik tingkah
laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik reaksi tokoh dan teknik reaksi tokoh
lain, teknik pelukisan latar, dan teknik pelukisan fisik.
b. Alur
Untuk
deskripsi alur. Film “Rudy Habibie” ini menggunakan jenis alur campuran, yaitu
gabungan alur maju dengan alur mundur. Hal ini dibuktikan berdasarkan pengertian
secara teori dengan fakta di dalam film yang diteliti. Alur campuran, yaitu
jalan cerita yang berjalan secara kronologis namun sering terdapat
adegan-adegan sorot balik (flashback).
Alur maju terdapat pada keseluruhan cerita yang hanya disisipi beberapa alur
sorot balik, yaitu alur maju diawali ketika Rudy muda tiba di Aachen untuk
menuntut ilmu di kampus RWTH Jerman dengan segala dinamika hidup yang ditemui
dan dialaminya. Selanjutnya alur sorot balik (flashback) terlihat pada adegan Rudy yang baru mendapat tempat
menginap di Jerman, ketika di kamar membuka koper, Rudy melihat Alquran yang
usang waktu mengaji dulu dan membawa kembali Rudy pada masa-masa bersama
keluarganya di Parepare, Gorontalo dan ketika di Makassar. begitu pun adegan
mengenang kembali terjadi ditelepon untuk menguatkan Rudy, Mami mengajak Rudy untuk
mengingat ketika dengan berani Rudy menggantikan posisi Papinya menjadi imam,
saat Papinya meninggal di sujud terakhir salat berjamaah. Alur sorot balik juga
terlihat ketika Rudy menerima surat dari Mami dan mengingat kenangan pernah
mengejek Ainun ketika bersekolah, atau ketika Rudy mengingat kembali pesan
ayahnya untuk menjadi “mata air” kala sedang gelisah dalam salatnya maupun
ketika sedang berbaring tidak berdaya di
rumah sakit.
2. Nilai
Optimisme
Bentuk nilai-nilai optimisme dipresentasikan dalam
adegan-adegan pada gambar menit-menit tertentu. Kemudian untuk mewakili
keutuhan satu scene yang ada,
peneliti menyertakan transkripsi dialognya, yang sebagian juga nilai optimisme
dianalisis berdasarkan kalimat-kalimat dialog/monolog/tindakan transkripsinya
untuk melengkapi gambar yang dianalisis.
Berdasarkan
hasil analisis pada bab sebelumnya, menyimpulkan bahwa terdapat 13 nilai
optimisme memiliki pengharapan yang tinggi yang dipresentasikan pada gambar
menit-menit adegan ke 4, 5, 9, 14, 25, 30, 31, 34, 35, 36, 50, dan 56. Terdapat
8 nilai optimisme tidak mudah putus asa pada gambar menit-menit adegan ke 5,
16, 40, 41, 52, dan adegan ke 53. Terdapat 2 nilai optimisme mampu memotivasi diri
pada menit-menit adegan ke 2 dan 9. Terdapat 12 nilai optimisme memiliki
kepercayaan diri yang tinggi yang dipresentasikan pada gambar menit-menit
adegan ke 2, 12, 13, 22, 23, 24, 26, 35, 38, 39, dan adegan ke 40. Terdapat 5
nilai optimisme tidak bersikap pasrah yang dipresentasikan pada gambar
menit-menit adegan ke 2, 10, 42, 48, dan 55. Terdapat 9 nilai optimisme banyak
akal dalam mencapai tujuan yang dipresentasikan pada gambar menit-menit adegan
ke 5, 6, 11, 12, 14, 17, 27, dan adegan ke 31. Terakhir terdapat 1 nilai
optimisme memandang sesuatu kegagalan sebagai hal yang bisa diubah bukan dengan
menyalahkan diri sendiri pada gambar menit adegan ke 42.
Berdasarkan jumlah masing-masing nilai optimisme di atas,
berikut peneliti simpulkan. Jika mengacu pada urutan terbanyak masing-masing
jumlah nilai optimisme, maka memiliki pengharapan yang tinggi menempati urutan
pertama dengan jumlah sebanyak 13 nilai, hal ini menunjukkan bahwa untuk
menjadi orang yang sukses poin pertama yang dibutuhkan adalah harus memiliki
pengharapan/keinginan yang besar, terutama harapan kepada Allah SWT dengan
segala prasangka baiknya kita. Setelah itu sebuah harapan harus didukung oleh
kepercayaan diri yang tinggi untuk mewujudkannya. Selanjutnya, percaya diri
saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan akal yang cerdas untuk melewati
rintangan yang ada, dan ketika rintangan hadir kita tidak boleh mudah putus asa
untuk menaklukannya, apalagi hanya bersikap pasrah tanpa melakukan sesuatu,
yang ada sebaliknya kita harus pandai memotivasi diri, karena bagaimana pun
kitalah motivator terbaik bagi diri kita sendiri, untuk mengubah kegagalan yang
ada menjadi manusia hebat yang jauh lebih baik.
K.
Daftar Pustaka
Aminuddin. (2009). Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Ardianto, E. dkk. (2014). Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Bolay. (2015). Jenis-jenis Genre Film.
[online]. Tersedia: http://bolaynet.blogspot.com/2015/05/penjelasan-dan-arti-dari-berbagai-genre.html diakses tanggal 26 Maret 2017.
Fabriar, S. R. (2009). Pesan Dakwah dalam Film Perempuan Berkalung Sorban (Analisis Pesan
Tentang Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam). E-Skripsi Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
Fatimah, F. (2014). Nilai Optimisme dalam Film Cinta Suci
Zahrana. E-Jurnal: mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Fitria, R. (2012). Nilai-nilai
Optimisme dalam Film Si Anak Kampoeng Karya Damien Dematra. E-Jurnal
Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ilaihi, W. (2010). Komunikasi Dakwah. Bandung: PT Remaja
Rosda Karya
Nurgiyantoro, B.
(2013). Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Phonna, J. (2015). Aceh Documentary 14 Tipe Shot Dalam Pengambilan Gambar Film. [online]. Tersedia: http://acehdocumentary.com/berita/14-tipe-shot-dalam-pengambilan-gambar-film/ (diakses tanggal 25 Maret 2017).
Qarni, A. A. (2008). Berbahagialah (Buku Motivasi Terjemahan).
Jakarta: Al- Qalam Gema Insani
Qodratillah, M. T. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Qodratillah, M. T. (2011). Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar.
Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Rakhmat, J. (2003). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja
Rosda Karya
Sobur, A. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung:
PT Remaja Rosda Karya
Suseno, B. (2010). Filmisasi Karya Sastra
Indonesia. [online]. Tersedia: https://bensuseno.wordpress.com/2010/02/22/filmisasi-karya-sastra-indonesia-kajian-ekranisasi-pada-cerpen-dan-film-%E2%80%9Ctentang-dia%E2%80%9D/ diakses tanggal 03 Maret 2017
Tagar. (2016). Informasi tentang film Rudy
Habibie. [online]. Tersedia: (Http://beritagar.id/artikel/seni/-hiburan/koala-kumal-menggeser-rudy-shabibie-sebagai-film-terlaris
(Diakses pada tanggal 24 Maret 2017).
Uno, H. B. (2010). Teori
Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Utomo, Y. P. (2014). Nilai-nilai Kejujuran dan Optimisme dalam Buku Habibie dan Ainun serta
Relevansinya Terhadap Guru PAI. E-Jurnal Jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Weisarkurnia, B. G. (2016). Refresentasi Pesan Moral dalam Film Rudy
Habibie Karya Hanung Bramantyo (JOM FISIP Vol. 4 No. 1-Februari 2017).
E-Jurnal: mahasiswa FISIP Universitas Riau.
Zaimar, O. K. S. (2014). Semiotika dalam Analisis Karya Sastra. Depok: PT Komodo Books.
L. Riwayat Hidup
Peneliti memiliki nama lengkap Asep
Saepudin, lahir di Garut, 23 Oktober 1992. Tepatnya di Kp. Dungus Maung, RT 04/
RW 04, Ds. Sirnagalih, Kec. Cisurupan, Kab. Garut, Jawa Barat. Peneliti
merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara dari pasangan Bpk. Oman dan Ibu
Rukmini. Riwayat pendidikan peneliti tidak semulus yang lainnya, karena satu
dan lain hal peneliti harus berhenti beberapa tahun untuk melanjutkan ke
jenjang berikutnya. Untuk sebagian orang peneliti telat dalam menempuh
pendidikan, tapi untuk peneliti sendiri ini adalah waktu terbaik menurut Allah dengan segala
kesiapan peneliti menjalaninya. Peneliti bersekolah di SDN Sirnagalih 01,
Dungus Maung, Cisurupan lulus 2004. MTs Darul Huda, Pakuwon, Simpangsari,
Cisurupan lulus 2007. Setelah lulus peneliti berhenti selama 1 tahun kemudian
melanjutkan ke SMKN 9 Garut, Nangoh, Bayongbong dan lulus 2011. Setelah lulus
SMK peneliti berhenti selama 2 tahun untuk mencari pengalaman, setelah itu
peneliti melanjutkan ke perguruan tinggi di STKIP Garut, mengambil Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Peneliti merupakan penderita gagap sejak
kecil dan itu sangat membuat peneliti putus asa, lucu untuk orang lain tapi
menyakitkan bagi penderitanya, setiap kali berbicara dengan orang yang tidak
dikenal atau berbicara di depan umum pasti “keistimewaan” itu muncul, seiring
berjalannya waktu dengan terus mengasah kemampuan berbicara dan terus berpikir
positif dengan tidak henti memotivasi diri, akhirnya atas izin Allah swt peneliti
mampu mengatasi sedikit demi sedikit “keistimewaan” itu dengan terus berlatih
melalui metode presentasi yang diterapkan di prodi PBSI, sering diminta kultum
sebelum perkuliahan dimulai, beberapa mata kuliah juga mendukung potensi
peneliti lebih terampil lagi dalam berbicara, di antaranya mata kuliah Berbicara
dan Menulis Bahasa Inggris, Berbicara, Retorika, pementasan drama, Simulasi
Mengajar, kegiatan KKN, praktikan PPL dan lainnya, jadi mohon maaf jika para
dosen mata kuliah melihat peneliti agak terbata-bata dalam menyampaikan gagasan,
sekaligus rasa terima kasih yang teramat sangat untuk prodi PBSI yang telah
menjadi jalan mengasah kemampuan berbicara peneliti, semoga semakin lebih baik
lagi dan sembuh total, aamiin. Karena “keistimewaan” tersebut modal peneliti untuk
melanjutkan kuliah saat itu hanya keyakinan, bahwa Allah tidak mungkin menuntun
peneliti sampai ke STKIP, kalau tidak ada maksud tertentu di dalamnya. Pasti
baik, pikir peneliti yakin. Hingga tidak terasa air mata menetes, mengingat
semua perjuangan orang tua dan peneliti masih banyak merepotkan belum mampu
membahagiakan.
Terbukti, akhirnya keyakinan peneliti
berbuah manis. Begitu banyak kebahagiaan yang peneliti dapatkan dalam
perjalanan di tiap semesternya. Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan
untuk meraihnya, ada harga yang harus dibayarkan. Malu, takut, pandangan tidak
bersahabat, keringat, air mata dan mulut yang tidak henti berdoa. Untuk pertama
kalinya dalam hidup peneliti, laksana mimpi memegang piala sebagai juara ketiga
pada ujian retorika. Sukses mementaskan drama, kembali memegang piala sebagai
kelompok terbaik kedua, pada ujian apresiasi drama bersama sahabat-sahabat
terbaik peneliti. Memiliki banyak teman, keluarga baru, pengalaman dan
momen-momen termahal ketika KKN maupun PPL, yang bahkan jepretan kamera pun tidak
sanggup mendeskripsikannya secara sempurna. Rezeki yang tidak disangka-sangka
lainnya, adalah ketika mendapatkan beasiswa PPA dari nilai IPK. Terima kasih Ya
Allah, (terharu).
Tanpa bermaksud sombong. Bagi peneliti
itu semua adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt. Ketika kita yakin,
istiqomah menjalaninya, dan menikmati prosesnya dengan sabar. Percaya, pasti
terjadi. Bahkan diluar dugaan.
Sekali lagi, terima kasih Ya Allah,
lewat STKIP Kau telah memberi jalan dan menunjukkannya bahwa kebahagiaan itu
ada, sederhana, bahkan banyak terutama bagi mereka yang mau memulai untuk
mewujudkannya. Ingat, kejutan itu banyak dirasakan, oleh mereka yang berani
mencoba. Jadi, mencobalah!.
Peneliti memiliki minat
terbesar untuk menjadi seorang presenter/pembaca berita yang meski bagai
memeluk bulan, tapi profesi itu masih tersimpan spesial di hati ini. Saat ini
peneliti tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia. Diakhir studi peneliti menyusun skripsi dengan
judul “Nilai Optimisme dalam Film “Rudy
Habibie” Karya Hanung Bramantyo” (Analisis Semiotik Roland Barthes).